Apakah Motor Listrik Laku di Indonesia?
Berita Otomotif – Seperti yang kita tahu, saat ini pemerintah sedang berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan transisi energi dari bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar listrik.
Sebagai informasi bahwa transisi energi harus dilakukan karena untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dunia, karena semakin hari minyak dunia akan semakin menipis.
Bahkan, berdasarkan data yang ada, minyak dunia hanya diprediksi mampu bertahan hingga sekitar 20-30 tahun kedepan, yakni hingga sampai tahun 2050 saja.
Oleh karena itu, energi terbarukan dan berkelanjutan harus mulai dikembangkan dari sekarang, agar beberapa tahun kedepan kita tidak mengalami kesulitan dan krisis energi.
Alasan utama pemerintah melakukan transisi energi sendiri ialah untuk menjaga lingkungan, karena energi bahan bakar minyak mempunyai kualitas kurang baik dan berdampak negatif terhadap lingkungan.
Sejumlah dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya energi bahan bakar minyak yakni meliputi pencemaran udara, pemanasan global, hujan asam, dan tumpahan atau kebocoran pipa kilang minyak.
Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan transisi energi bahan bakar minyak ke energi listrik ialah seperti melakukan konversi mesin bensin ke listrik, pembentukan satgas transisi energi, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), penghentian pembangkit listrik tenaga diesel, mandatori kendaraan listrik di instansi pemerintah, dan memberikan subsidi kendaraan listrik bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bahkan, untuk meningkatkan minat masyarakat dalam membeli dan menggunakan kendaraan listrik, pemerintah telah memberlakukan pengenaan pajak kendaraan listrik yang jauh lebih murah dibandingkan dengan kendaraan konvensional.
Meskipun telah di subsidi dan diberlakukan pengenaan pajak lebih murah, tetapi pada realitanya, penjualan kendaraan listrik masih sangat rendah dibandingkan dengan kendaraan konvensional.
Berdasarkan data yang ada, presentase penggunaan motor listrik di Indonesia masih berada di bawah 1 persen dari total populasi keseluruhan kendaraan konvensional di Indonesia.
Sangking kecilnya presentase tersebut, saat ini banyak spekulasi liar yang mengklaim bahwa kendaraan listrik tidak akan laku di pasar Indonesia, dan jika di teruskan, maka perusahaan kendaraan listrik akan gulung tikar.
Spekulasi tersebut memunculkan banyak pertanyaan, salah satunya ialah yakni mengapa kendaraan listrik tidak diminati oleh masyarakat Indonesia.
Fakta di lapangan mengklaim bahwa salah satu faktor yang membuat kendaraan listrik kurang diminati ialah yakni infrastruktur pengisian daya yang masih belum merata di seluruh daerah Indonesia.
Hal tersebut tentunya sangat berbeda dengan kendaraan konvensional yang mempunyai infrastruktur SPBU di mana-mana, bahkan satu daerah saja terkadang mempunyai lebih dari satu SPBU.
Faktor lainnya adalah, kendaraan listrik sangat rawan digunakan untuk perjalanan jauh, karena bengkelnya juga belum menyebar luas, bahkan kendaraan listrik juga membutuhkan waktu lebih dari 1 jam untuk mengisi daya.
Sedangkan, kendaraan konvensional hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk mengisi bahan bakar nya.
Tanggapan Pemilik Bengkel

Abdullah, salah satu pemilik bengkel spesialis kendaraan listrik roda dua dengan nama bengkel Dolland Motor Electric mengatakan, fasilitas pengisidan daya kendaraan listrik masih belum merata, dan banyak masyarakat yang khawatir saat melakukan perjalanan jauh.
Biasanya, merk motor bisa terkenal karena adanya komunitas, dan komunitas biasanya kerap melakukan konvoi atau touring bersamaan ke suatu tempat wisata.
Permasalahan yang timbul ialah, kendaraan listrik sangat tidak cocok untuk digunakan touring, karena kapasitas mesin yang kurang besar dan pengisian daya yang jarang ada bahkan tidak ada di tempat-tempat wisata.
Permasalahan selanjutnya ialah tidak semua rumah tangga mempunyai daya pasokan listrik yang cukup untuk mengisi daya kendaraan listrik.
Memang kendaraan listrik di desain sedemikian rupa untuk di isi daya sendiri di rumah masing-masing, tetapi kondisinya tidak semua rumah di Indonesia mempunyai fasilitas yang sama, dan kendaraan listrik tidak cocok dipakai untuk orang yang sibuk dan terburu-buru, karena mengisi dayanya sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama.
Disisi lain, permasalahan paling utama ialah adanya persepsi kekhawatiran masyarakat tentang tagihan listrik yang membengkak tiap bulannya akibat penggunanan kendaraan listrik.
Oleh karena itu, agar minat masyarakat terhadap kendaraan listrik tinggi, pemerintah harus mulai membangun fasilitas infrastruktur yang mumpuni dan merata, serta menggelar edukasi agar persepsi buruk tentang kendaraan listrik di masyarakat dapat terjawab dan terpatahkan.