Mengapa Road Rage Masih Sering Terjadi?
Berita otomotif- Sebuah video yang memperlihatkan aksi anarkis di jalan raya kembali memicu perhatian publik. Kali ini, sebuah mobil Low Cost Green Car (LCGC) terekam kamera merusak sebuah Mini Cooper di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Dalam rekaman yang diunggah oleh akun Instagram @dashcamindonesia, pengemudi LCGC tersebut tampak meluapkan emosinya secara agresif dengan merusak kaca spion dan menekuk wiper mobil milik korban, @hendysantono.
Fenomena ini dikenal luas sebagai road rage, sebuah tindakan agresif atau kemarahan ekstrem yang dipicu oleh situasi di jalan raya. Kasus ini menambah panjang daftar konflik antar-pengemudi yang berujung pada aksi perusakan fisik kendaraan di Indonesia.
Psikologis di Balik Amukan Pengemudi
Mengapa seorang pengendara bisa sangat mudah kehilangan kendali hingga nekat merusak kendaraan orang lain? Pakar psikologi dari Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, memberikan analisisnya terkait fenomena ini. Menurut Rose Mini, perilaku agresif di jalan raya sebenarnya bukan murni disebabkan oleh kemacetan atau senggolan semata. Hal ini berkaitan erat dengan lemahnya kemampuan seseorang dalam mengontrol emosi dan berempati.
“Hal tersebut berkaitan dengan moral. Semua orang sebenarnya tahu bahwa memukul orang atau merusak barang milik orang lain adalah tindakan yang salah. Namun, mengapa tetap dilakukan? Karena kontrol diri dan empatinya lemah,” ujar Rose Mini.
Rose Mini menambahkan bahwa dalam aspek moral, terdapat elemen penting seperti nurani, kontrol diri, dan empati. Nurani berfungsi sebagai kompas untuk membedakan hal baik dan buruk. Ketika seseorang berkendara, nilai-nilai seperti kebaikan (kindness), keadilan (fairness), toleransi, dan rasa hormat (respect) seharusnya menjadi landasan utama. Idealnya, nilai-nilai tersebut sudah ditanamkan sejak usia dini agar membentuk karakter yang matang saat dewasa.
Sayangnya, pelaku road rage sering kali membiarkan emosi mengambil alih logika mereka secara spontan tanpa memikirkan konsekuensi panjang. Menariknya, dalam banyak kasus, pelaku baru tersadar dan menunjukkan penyesalan setelah aksi mereka viral di media sosial. Ketakutan terhadap konsekuensi hukum biasanya menjadi alasan utama di balik permintaan maaf tersebut.
Padahal, semakin matang usia seseorang, kemampuan dalam mengendalikan diri di ruang publik seharusnya semakin meningkat. Kasus ini menjadi alarm keras bagi para pengguna jalan bahwa kedewasaan dalam mengemudi tidak hanya diukur dari kemahiran menyetir, tetapi juga dari kematangan emosi di balik kemudi.